Majelis Taklim, sebagai media dakwah, diharapkan bisa menjadi ben-teng aqidah Islam. Sehingga gerakan pemurtadan dan pendangkalan aqidah, yang selama ini sangat gencar dan sudah menyebar, insya Allah tak akan berpengaruh.
Senja berganti malam. Menutup hari-hari yang lelah. Matahari sudah lenyap ditelan mega-mega yang turut pudar. Malam itu, disertai turunnya hujan benar-banar meng-hadirkan sunyi senyapnya malam.
Namun tidak demikian halnya bagi warga Waihaong Pulu, kota Ambon. Riuh suara canda Ibu-ibu seakan memecah sunyinya malam. Di sebuah Mushola yang terletak di -tengah-tengah pemukiman warga, kaum ibu tengah asyik membungkus telur dan menata kue-kue ke dalam kotak kecil, sebagian lagi membersihkan lantai dan memberi karpet di atasnya, dan sebagian yang lain menghiasi ruangan dengan dekorasi yang menyejukkan mata. Mereka bersiap sedia untuk melaksanakan acara yang dinantikan, yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tepat Pukul 20.30, jamaah sudah membanjiri pelataran mushola As-Syukur. Mereka datang dari berbagai undangan. Dan pada kesem-patan malam itu, hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di sampaikan oleh Al-Ustad Kasim Mahmud.LC, seorang muballigh lulusan dari negeri Yaman.
Begitulah acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh Ibu-ibu Majelis Taklim As-Syukur, Waihaong Pulu. “Semua itu tidak lain untuk memeriahkan dakwah Islam. “Kami ingin perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini bukanlah hanya sebuah seremonial belaka, tetapi kita harus dapat mencontoh perilaku dan ajaran Rasulullah SAW”, kata Ketua Majelis Taklim As-Syukur, Dra. Hj. Asliawaty Kabalmay.
Keberadaan Maljelis Taklim As-Syukur yang ter-letak di tengah pemukiman warga ini tak lepas dari gagasan Dra. Hj. Asliawaty Kabalmay yang tak lain adalah pemimpin Majelis Taklim As-Syukur.
Penduduk di kawasan Waihaong Pulu, tepatnya RT 001/004 dan RT 003/004, menganut agama Islam seratus persen. Namun sayangnya, dakwah Islam di kawasan ini belum semarak. Sehingga di-khawatirkan, gerakan pemur-tadan dan pendangkalan aqidah yang selama ini sangat gencar dan sudah menyebar ke mana-mana, juga akan merambah kawasan tersebut. Karena itu, Dra. Hj. Asliawaty Kabalmay terketuk hatinya untuk mendirikan Majelis Taklim sebagai media dakwah, guna mem-berikan pemahaman dan wawasan akan ajaran Islam kepada para tetangga dan warga sekitar kompleks, sekaligus menjadi benteng aqidah dan akhlaq di kawasan tersebut.
Perjuangan dakwah pun dimulai, dengan mendirikan Majelis Taklim As-Syukur. Tentunya, jamaah yang ikut dalam pengajian yang baru didirikan pada tahun 2003 itu tidak serta merta membludak. Waktu itu hanya beberapa orang yang mengikuti pengajian yang diadakan seminggu sekali itu. Tapi lambat-laun jamaah pun mulai bertambah dan alhamdulillah kegiatan-kegiatan Islam pun mulai semarak di daerah tersebut.
Berbagai macam ke-giatan keagamaan, rutin dilak-sanakan. Salah satunya adalah pengajian Ibu-ibu, yang biasa digelar setiap malam Jumat ba’da Isya’ sampai selesai.
Untuk menarik minat jamaah dan sekaligus men-syi’arkan Islam, Majelis Taklim As-Syukur tak pernah bosan mengundang para alim ulama untuk menyampaikan tausiahnya. Diantaranya, Ustad Soleman Drahman, dan Ustad Kasim Mahmud LC yang lulusan dari negeri Yaman.
Perjuangan dakwah Majelis Taklim As-Syukur tidak hanya sampai disitu, mereka juga memberikan santunan kepada fakir miskin dan anak yatim. Semua ini dilakukan karena semata-mata mengharapkan berkah dan ridho Allah SWT. Dan tidak lupa pada saat Lebaran Idul Ad’ha, Ibu-ibu yang mayoritas adalah warga se-tempat ini pun turut memberikan hewan qurban dan membagikannya kepada masyarakat sekitar.
Alhamdulillah, dengan izin Allah acara Maulid Nabi Muhammad SAW pun selesai sudah, ucap ibu-ibu yang dari tadi mengikuti jalannya acara Maulid. Semoga tahun depan kita masih diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk melak-sanakan acara yang sama.■
Dari Abdullah bin ‘Amr Al-Ash RA, Rasulullah SAW bersabda, ”Dunia adalah suatu kesenangan, dan sebaik-baiknya kesenangan adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim)
Selengkapnya...
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Oleh Ibu-ibu Majelis Taklim As-Syukur Waihaong Pulu ~ Ambon
Diposting oleh Arman La Ata di 05.36 0 komentar
Label: Dakwah, Majelis Taklim, Maulid
Pada Waktu Shalat, Membaca Al-Fatihah Tanpa Basmallah. Bagaimana Hukumnya?
Assalamua’alaikum Wr. Wb
Dalam QS. Al-Hijr 87 “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung.
Dalam sahih Muslim 355 – juga pada Bukhari Muslim dari Anas bin Malik ra, “Aku biasa shalat di belakang Nabi SAW, di belakang Abu Bakar, Umar, dan Usman. Mereka hanya memulai bacaan dengan ‘Alhamdulillah rabbi ‘alamin’ dan tidak pernah kudengar mereka membaca ‘Bismillahirrahmanirrahim’ pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya”. Bagaimana kita menilai hadits shahih Muslim tersebut?
Jawab :
Antara ayat Al-Quran dan hadits nabawi yang anda pertentangkan itu memang sepintas kelihatan saling bertentangan. Namun, bukan berarti keduanya harus bertentangan, karena kalau kita teliti lebih dalam, sesungguhnya pertentangan antara keduanya tidak perlu terjadi.
Ayat Al-Quran memang menjelaskan bahwa surat Al-Fatihah itu terdiri dari 7 ayat. “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung.(QS.Al-Hijr:87). Dan hadits yang anda pertentangkan juga termasuk hadits yang shahih, setidaknya menurut mayoritas umat Islam yang menempatkan kedudukan kitab shahih Bukhari dan shahih Muslim sebagai kitab kedua dan ketiga di dunia seetelah Al-Quran. Dari segi periwayatan, hadits diatas sudah tidak ada masalah. Tinggal masalah cara memahaminya. Mari kita periksa matan hadits ini dengan teliti.
Anas bin Malik ra melaporkan bahwa dirinya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Utsman ra mengucapkan basmallah dalam shalat.
Dari sini kita bisa mengambil beberapa hal. Pertama, kalau Anas bin Malik ra tidak merasa pernah mendengar basmallah, bukan berarti hal itu menjadi suatu kepastian bahwa kapan dan dimanapun Rasulullah SAW dan ketiga sahabatnya itu tidak pernah mengucap-kannya. Boleh jadi apa yang dilaporkan oleh Anas bin Malik itu benar menurut pengalaman pribadinya, namun laporan itu tidak harus menggugurkan orang lain yang misalnya melaporkan hal yang sebaliknya.
Kedua, kalau Anas ra menyatakan tidak pernah mendengar lafadz basmalah diucapkan Nabi SAW dalam shalat, bukan berarti beliau sama sekali tidak mengucapkannya. Ada kemungkinan beliau membaca dengan sirr (suara direndahkan) sehingga pastilah Anas ra tidak mendengarnya. Tetapi hadits ini tidak bisa dijadikan dasar bahwa basmalah bukan termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah.
Sebab kita pun mendapatkan hadits lainnya yang menegaskan bahwa basmalah termasuk bagian dari surat Al_Fatihah. “Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila kamu membaca Alhamdulillah (surat Al-Fatihah), maka bacalah bismillahirrahmanirrahim, karena Al-Fatihah itu ummul Quran, ummul kitab, Sab’ul matsani. dan bismilla-hirrahmanirrahim adalah salah satu ayatnya”. (HR Ad-Daruquthuny)
Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi Salamah. Dan dalam kitab Al-Majmu’ hal 302 ada 6 orang sahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah.
Khilaf Para Ulama
Kalau kita perhatikan semua dalil yang ada, memang kita menemukan adanya perbedaan. Sehingga sangat wajar bila para ulama pun ikut berbeda pendapat tentang kedudukan basmalah dalam surat Al-Fatihah.
1. Pendapat Imam Malik
Pandangan Imam Malik sebagai pendiri mazhab Al-Malikiyah bahwa basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah. Dalil mereka adalah hadits di atas tentunya.
2. Pendapat Imam Asy-Syafi'i
Lain lagi dengan pendapat Al-Imam Asy-Syafi'i, beliau berpandangan bahwa basmalah adalah bagian dari surat Al-FAtihah dan dibaca secara keras (jahar) di dalam shalat jahriyah.
3. Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal
Sedangkan dalam pandangan Al-Hanbal, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr).
Bila anda perhatikan imam masjidil al-haram di Makkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun mereka membacanya umumnya orang-orang di sana bermazhab Hanbali.
Lihatlah bagaimana dinamisnya dalil dan kesimpulan hukum Islam, penuh dengan pernik perbedaan namun tidak melahirkan perpecahan di kalangan ulama yang paham. Perpecahan dan saling menyalahkan hanya terjadi di level paling bawah, di kalangan yang paling tidak mengerti syariah, terbatas di komunitas yang baru mengenal Islam pada kulit terluarnya saja.
Semangat untuk mempelajari Islam yang harus kita bangun bukanlah semangat untuk saling berdebat dan saling menjelekkan sesama muslim.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dikutip dari : www.hidayatullah.com
Program Kerja Bidang Pendidikan & Dakwah
Remaja Masjid As-Syukur Waihaong Pulu ~ Ambon
Selengkapnya...
Diposting oleh Arman La Ata di 05.18 0 komentar
Label: Konsultasi Agama
Bagaimana Cara Minta Maaf Kepada Orang Tua yang Telah Meninggal?
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ketika orangtua saya masih hidup, sayalah anak yang paling banyak menyusahkan mereka. Meskipun saudara-saudara saya ada juga yang nakal dan suka melawan orangtua, tetapi yang paling keterlaluan adalah saya.
Saya sering memaki-maki ayah maupun ibu saya dengan sangat kasar, bahkan di depan orang lain. Walaupun demikian, orang tua saya tetap sabar dalam menghadapi saya. Pada suatu hari karena terbujuk godaan setan, saya hancurkan barang-barang yang ada di rumah, karena orangtua tak mau memberikan uang kepada saya. Akhirnya mereka mengusir saya. Saya pun pergi dari rumah, bergaul dengan teman-teman yang rusak, dan tak pernah pulang ke rumah.
Tiga tahun lalu, ayah saya wafat, dan setahun kemudian ibu saya menyusul. Kini saya telah bertobat, telah meninggalkan teman-teman yang dulu, atas bimbingan seorang tua yang sangat baik yang menganggap saya seperti anaknya sendiri. Tetapi saya masih dihantui perasaan bersalah, karena belum sempat mendatangi orangtua untuk minta maaf sampai keduanya meniggal. Bagaimana cara meminta maaf kepada mereka..?
Jawab : Orang yang durhaka kepada Ibu-bapaknya berarti durhaka kepada Allah, Dzat yang memerintahkan anak untuk berbakti kepada orangtua. Maka tobatnya adalah memohon ampun kepada Allah SWT dan memohon maaf kepada atau bapak. Kepada Allah, kita selalu dapat minta ampunan-Nya kapan saja, karena Dia senantiasa hidup, dan Dia menerima tobat hamba-Nya, lagi Maha Penyayang. Tetapi bagaimana meminta maaf kepada ibu atau bapak jika mereka telah berpulang ke rahmatullah?
Ada tiga cara mendapatkan keridhaan ibu-bapak yang telah wafat. Yaitu, menjadikan diri kita sebagai anak yang shalih, menjaga hubungan silaturahmi dengan kerabat dan teman-teman kedua orangtua, dan berdoa serta bersedekah untuk keduanya. Diriwayatkan Abu Usaid, Malik bin Rabia’h As-Sa’idi RA berkata, “Ketika aku tengah duduk di sis Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Bani Salamah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada suatu kebajikan terhadap kedua orangtua-ku yang dapat aku lakukan sesudah keduanya wafat?’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Ya, dengan berdoa untuk keduanya, memohon ampunan bagi keduanya, menunaikan janji keduanya sesudah keduanya wafat, menghubungkan tali kekeluargaan yang tidak terhubungkan melainkan oleh keduanya, dan memuliakan teman keduanya’.”(HR Abu Daud).
Diriwayatkan oleh Ibnu Dinar, ia mengatakan, “Ibnu Umar, apabila keluar menuju Makkah, menunggang keledai untuk beristirahat di atasnya apabila jemu naik unta, dan ia memiliki sorban yang diikatnya pada kepalanya. Suatu hari ketika ia berada diatas keledai itu, tiba-tiba seorang Badwi melewatinya. Ibnu bertanya, ‘Bukankah engkau ini si Fulan anak si Fulan?’ Orang Badwi itu menjawab, ‘Benar’. Maka diberikannya keledainya kepada Badwi itu seraya berkata, ‘Tunggangilah ini’. Dan diberikannya pula sorbannya dengan mengatakan, ‘Ikatkanlah sorban ke kepalamu’. Lalu sebagian temannya berkata kepadanya, ‘Semoga Allah mengampunimu. Engkau telah memberikan kepada Badwi ini keledai yang engkau biasa beristirahat di atasnya dan engkau berikan juga sorban yang biasa engkau ikat pada kepalamu’. Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya diantara kebajikan yang terbaik adalah mengadakan hubungan baik dengan orang yang dicintai ayahnya setelah ia meninggal dunia. Dan sesungguhnya ayah orang ini adalah teman ayahku, Umar RA”. (HR Muslim).
Terakhir, kami mengajak anda untuk merenungkan firman Allah SWT dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24, “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Dia dan agar kamu berbuat baik kepada Ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah diri terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihi dan merawatku diwaktu kecil”.■
Dikutip dari : Majalah Islam al-Kisah
Program Kerja Bidang Pendidikan & Dakwah
Remaja Masjid As-Syukur Waihaong Pulu ~ Ambon
Selengkapnya...
Diposting oleh Arman La Ata di 04.07 0 komentar
Label: Konsultasi Agama
Apa Yang Harus Saya Lakukan Apabila HP Saya Berdering Ketika Saya Sedang Shalat? Dan Bagaimana Hukumnya?
Assalamu’alaikum Wr Wb.
Sebelum shalat, saya terbiasa mematikan HP. Tetapi kadang saya lupa melakukannya. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan apabila HP saya berdering. ketika saya sedang shalat berjamaah atau ketika sedang shalat sunnah di dalam masjid. Bila itu terjadi ketika shalat saya hampir selesai, biasanya saya mendiamkannya hingga saya selesai. Tetapi apabila jumlah rakaatnya masih banyak, biasanya saya matikan. Namun saya tidak tahu apakah hal itu boleh di lakukan atau tidak. Saya mohon penjelasan…
Jawab : Masalah yang anda alami ini bisa kita lihat dari segi adab dan dari segi hukum. Kedua-duanya mesti kita perhatikan. Sebagaimana kita ketahui, ada adab-adab yang mesti kita jaga ketika shalat, baik sebelumnya, ketika sedang berada di dalamnya, maupun sesudahnya. Di antara adab terpenting dalam shalat adalah menjaga kekhusyu’an dengan mengkonsentrasikan seluruh pikiran dan perasaan kita kepada Allah.
Karena itu, agama mengajarkan kepada kita, apabila kita sedang lapar sedangkan waktu shalat masih cukup luas sebaiknya kita makan terlebih dahulu setelah itu baru shalat. Mengapa? Tujuannya agar shalat kita dapat lebih khusyu’ dan tidak memikirkan masalah makan. Tentu saja untuk menghasilkan kekhusyu’an dalam shalat, sejak sebelum masuk ke dalamnya kita harus mempersiapkan hati kita agar benar-benar terfokus ke dalam ibadah ini. Untuk itu segala sesuatu yang bisa mengganggu kekhusyu’an shalat kita dan shalat orang lain harus kita hindari, termasuk dering HP, yang dapat muncul kapan saja.
Jika sebelum shalat kita menyadari untuk mempersiapkan kekhusyu’an kita dan tidak langsung begitu saja masuk ke dalamnya, insya Allah kita tidak akan lupa mematikan HP. Tetapi seandainya terlanjur lupa mematikannya dan tiba-tiba berbunyi, sebaiknya kita mematikannya, dan upayakan tidak terlalu banyak menggerakkan tangan. Perbuatan ini tidak membatalkan shalat, karena yang membatalkan adalah apabila kita banyak melakukan sesuatu atau banyak bergerak yang tidak ada perlunya dan tidak ada hubungannya dengan shalat, seperti bergerak tiga langkah atau memukul tiga kali berturut-turut. Karena, orang yang sedang berada dalam shalat hanya di suruh mengerjakan yang berhubungan dengan shalat, sedangkan yang lain hendaknya di tinggalkan.
Dalam sebuah hadits yang dirwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dikatakan, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya dalam shalat itu ada perbuatan yang telah di tentukan”. (HR Bukhari Muslim). Namun, apabila ada hajat pada perbuatan yang lain, juga tidak ada halangan. Umpamanya shalat sewaktu dalam peperangan, melihat kalajengking atau ular yang akan menggigit, tidak halangan bagi kita untuk bergerak atau melangkah. Begitu juga gerak yang sedikit, seperti menggerakkan jari atau lidah, karena yang demikian itu tidak mengubah gambaran shalat. Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan Abu Daud At-Tirmidzi di sebutkan, Rasulullah SAW menyuruh membunuh kalajengking dan ular ketika seseorang sedang shalat.■
Dikutip dari majalah Islam al-kisah
Program kerja Bidang Pendidikan & Dakwah
Remaja Masjid As-Syukur Waihaong Pulu ~ Ambon
Selengkapnya...
Diposting oleh Arman La Ata di 06.32 0 komentar
Label: Konsultasi Agama
